Rabu, 07 Maret 2012

kumpulan aneka artikel 'n tips menarik

kumpulan aneka artikel 'n tips menarik


Cuka Dapur Bisa Jadi Pembersih Karat

Posted: 07 Mar 2012 08:50 AM PST


Selain sebagai bumbu untuk menambah rasa asam dan menghilangkan bau amis, cuka juga memiliki manfaat lainnya. Cuka atau asam asetat dapat mengatasi berbagai masalah kebersihan rumah. Mulai dari shower yang mampet, lantai yang kusam, hingga membersihkan kerak pada botol.

Cara menggunakannya pun sangat mudah, inilah dia 7 kesaktian cuka tsb :

1. Shower Mampet
Air yang mengandung besi, tanah, atau pasir halus bisa menjadi biang keladinya. Untuk mengatasinya, siapkan 1 liter air panas, kemudian tuangkan satu cangkir cuka makan dan aduk. Rendam kepala shower dalam larutan tadi selama 10 menit. Angkat, lalu bersihkan. Teratasi sudah masalah shower mampet.

2. Blender Kotor
Penggunaan blender biasanya meninggalkan noda. Terkadang noda tersebut sulit dihilangkan. Jika itu terjadi, gunakan campuran air, sabun cuci piring, dan cuka. Tuang campuran itu ke dalam blender dan nyalakan blender selama 30 detik. Buang campuran air tadi dan bilas dengan air hangat.

3. Lantai Kusam
Lantai keramik yang berusia lebih dari lima tahun biasanya berubah menjadi kotor dan kusam. Untuk membersihkannya, tuangkan cuka ke permukaan lantai. Diamkan selama lima menit. Kemudian bersihkan dengan kain pel, hingga bersih. Pel sekali lagi dengan air untuk menghilangkan bau cuka.

4. Karat Logam
Untuk menghilangkan karat, siapkan satu sendok makan cuka dicampur satu sendok teh garam. Gosokkan campuran tersebut ke bagian perkakas logam yang berkarat. Setelah karat hilang, bersihkan dengan air dan keringkan.

5. Guci Pecah
Guci pecah pun bukan lagi masalah. Buat campuran dari satu bungkus agar-agar, satu sendok cuka, aduk hingga mengental. Gunakan campuran adonan tadi sebagai lem. Rekatkan setiap bagian pecahan guci. Setelah itu jemur hingga adonan lem kering. Guci pun kembali utuh.

6. Sisa Minyak
Agar noda minyak di panci gampang dibersihkan, tuangkan cuka ke dalam 2 liter air. Celupkan panci berminyak ke dalamnya. Noda minyak akan luntur dan setelah itu bilas panci dengan air bersih.

7. Kerak Botol
Kerak pada botol bisa dibereskan dengan cuka. Masukkan air sabun ke dalam botol. Tambahkan satu sendok makan abu gosok dan satu sendok makan cuka. Biarkan selama 10 menit. Kemudian kocok-kocok dan sikat bagian dalam botol. Kerak dalam botol pun hilang.

Dengan 7 kesaktian cuka diatas, maka masalah kebersihan rumah, dapat diantisipasi dengan baik, sehingga rumah pun menjadi sehat dan nyaman.

Waw, Ada Gunung Magnet di Madinah

Posted: 07 Mar 2012 08:47 AM PST

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidsxRAUjP_fdJaAL96moneNXkOSKxIs6RK59d7HdY2JaRhBj1XlyhiaH_pj58WejvC7yyw2m9k5LDojnuh6T0MCICzKArj3VKb7BDyheXffzNnsuEh2TCkIXjm1D0wnPCKZVKcwNgpuYE/s320/Bukit-Magnet1.JPG
FENOMENA alam tak kunjung habis di Madinah dan Mekah. Kini, Jabal (Gunung) Magnet menjadi fenomenal dan banyak dibicarakan jemaah umrah.Kelebihannya, mampu mendorong kendaraan dengan kecepatan 120 km per jam dengan posisi persneling netral.

Namanya memang tak setenar dengan tempat bersejarah lainnya yang ada di kota suci Medinah dan Mekah, seperti Jabal Uhud, Baqi' Jabal Rahmah, dan lainnya. Tapi, belakangan ini, Jabal Magnet mengundang jemaah Arab maupun umrah untuk datang merasakan kelebihannya.

Seorang Wartawan mencoba menelusuri gunung ini dengan merental taksi. Tarif untuk ke tempat ini tergantung dari nego dengan sopir. Biasanya 100 hingga 400 riyal. Lokasinya memang cukup lumayan dari Kota Medinah, sekitar 40 km menuju arah Kota Tabuk. Jabal Magnet berada di luar daerah haram, sehingga bebas dikunjungi warga nonmuslim.

Jika dilihat secara kasat mata, sebetulnya tidak jauh beda dengan daerah lainnya, yakni berupa bukit-bukit batu gersang seperti yang banyak mengelilingi Kota Medinah. Hanya ketika kendaraan sampai di jalan raya di antara perbukitan tersebut, baru akan merasakan ada suatu keanehan.

Sebab jalan sepanjang sekitar 4 km di kawasan perbukitan ini diyakini memiliki daya dorong. Mobil akan berjalan dengan kecepatan tinggi menjauhi Jabal Magnet, meskipun persneling mobil dalam posisi netral.

Hal itu dirasakan penulis bersama dua jemaah lainnya, Nursan dan Rusli Rasyid. Saat taksi yang kami tumpangi menuju arah selatan, Jawahir, 42, sopir taksi asal Kerawang, Jawa Barat ini mengaku kendaraan menjadi sangat berat meskipun medan jalan tidak begitu menanjak.

Makin lama bahkan ia terpaksa memindahkan persneling mobil ke posisi satu, karena kesulitan bergerak hingga kecepatannya hanya 15 hingga 20 km per jam. Padahal, dengan kondisi jalan yang tidak terlalu menanjak, seharusnya dengan persneling dua, taksi masih kuat.

Persneling Netral, Mobil 'Didorong' Menjauhi Jabal Magnet:
Dengan laju yang berat itu, Jawahir yakin ada pengaruh magnet yang menahan gerakan mobil. Sebaliknya, ketika mobil berbalik arah menuju Medinah, sopir yang sudah enam tahun tinggal di kota ini mengaku taksinya melaju dengan kecepatan tinggi, meskipun persneling dalam posisi netral. Kian lama kecepatan kendaraan makin tinggi. Bahkan, baru sekitar 3 km, kecepatan taksi ini sudah menunjukkan angka 120 km per jam.

Bisa Mencapai 120 Km per Jam :
Karena penasaran, penulis maupun Nursan, jemaah dari Maros itu bergantian menyetir kendaraan tersebut. "Ternyata benar, ini suatu keajaiban. Masa dalam posisi netral, kecepatan mobil bisa sampai 120 km per jam. Ini pasti ada daya dorong dari gunung tersebut," tunjuk Nursan ke arah gunung di sekitar jalan tersebut.

Rusli Rasyid juga tak mau ketinggalan. Mantan pembalap drag race di Makassar ini, mengaku banyak tahu tentang kecepatan kendaraan. Saat mobil tersebut disetir ke arah Kota Tabuk, yaitu arah ke Jabal Magnt, dia hanya mampu menginjak gas sampai kecepatan 50 km per jam. "Ini saya injak sudah full, bunyi lagi di bagian bawah.

Berarti kita tidak bisa paksa," ujarnya. Saat persneling dikembalikan ke posisi netral, perlahan-lahan mobil tersebut berhenti. Sebaliknya, saat Rusli mencoba ke arah Medinah dengan posisi persneling netral, jarum kilometer mobil malah memutar sampai ke titik 120 km per jam.

Memang medan jalan menuju Kota Medinah agak menurun, namun dengan kondisi demikian tidak wajar akselerasi mobil begitu cepat. Bahkan, sebetulnya laju kendaraan bisa lebih tinggi lagi, tapi Nursan maupun Rusli tidak berani lalu mengeremnya karena tidak mampu mengendalikannya.

Tidak ada batasan yang jelas, mulai dari mana jalan yang memiliki daya magnet itu. Tapi jika dirasakan, pengaruh magnet itu mulai bila kendaraan melaju dari bendungan air yang letaknya tak jauh dari putaran hingga bukit menjelang belokan ke Medinah. Setelah sekitar melaju lima km, kecepatan mobil mulai berkurang sedikit demi sedikit, padahal jalan masih menurun. Akhirnya, mobil memiliki kecepatan lambat saat berada di depan bendungan air.

Hal yang sama dirasakan ketika Koordinator Kopertis Wilayah IX Prof Aminuddin Salle yang juga menyambangi tempat ini. Ia mengaku membayar taksi sampai 400 riyal hanya karena penasaran ingin mengetahui tempat yang unik itu. "Saya hanya pernah dengar, makanya kesempatan ini saya manfaatkan untuk merasakan daya dorong dari gunung magnet itu. Ternyata betul. Subhanallah," ujar Aminuddin Salle.

Belum diketahui secara jelas apa hubungan antara magnet dengan laju kendaraan. Sampai saat ini juga belum ada penelitian tentang daya dorong magnet itu oleh dari ahli. "Tidak ada penelitian. Ini juga sekadar informasi dari mulut ke mulut hingga banyak orang yang tertarik main ke sini," cerita Jawahir.

Namun, dari sejumlah informasi yang berkembang di Medinah, menyebutkan, dulunya Jabal Magnet ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang Arab Baduy. Saat itu si Arab ini menghentikan mobilnya karena ingin buang air kecil. Namun karena sudah kebelet, ia mematikan mesin mobil, tapi tidak memasang rem tangan.

Ketika sedang enak-enaknya pipis, ia kaget bukan kepalang, mobilnya berjalan sendiri dan makin lama makin kencang. "Ia berusaha mengejar, tapi tentu saja tidak berhasil. Dan menurut kisahnya, mobilnya tersebut baru berhenti setelah melenceng ke tumpukan pasir di samping jalan," ungkap Jawahir.

Pembunuh Kuman Nomor Satu di Dunia

Posted: 07 Mar 2012 08:46 AM PST

Sering sakit perut, batuk, pilek, diare, bahkan pernah terkapar akibat tifoid? Coba cek, jangan-jangan Anda termasuk orang yang malas mencuci tangan dengan sabun.

Suka atau tidak, kuman penyebab penyakit ada di sekitar kita. Tanpa sadar, kuman-kuman itu berpindah dari benda-benda yang kita sentuh ke tangan. Kemudian, kuman-kuman itu masuk ke dalam tubuh ketika tangan yang terkontaminasi itu memegang makanan atau menyentuh mulut.

Penularan mikro organisme di lingkungan melalui tangan dapat terjadi dengan berbagai cara. Percikan dari udara serta kontak tangan dengan orang lain juga menyebabkan terjadinya pertukaran kuman atau virus.

Kuman penyakit dapat bertahan di tangan selama beberapa menit setelah kontaminasi terjadi

Badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa kedua tangan kita merupakan jalur utama masuknya kuman penyakit ke dalam tubuh. Itu sebabnya, selain menjalankan gaya hidup sehat, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun akan mengurangi dan mencegah timbulnya penyakit.

"Kebiasaan cuci tangan mampu mengurangi konsentrasi kuman maupun virus pada telapak tangan," kata Profesor Umar Fahmi Ahmadi, staf pengajar pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dalam sebuah kesempatan.

Ia menjelaskan, kuman yang ada di tangan manusia terdiri dari dua jenis, yakni kuman yang memang hidup di situ (transenden), serta kuman yang diperoleh dari lingkungan (transien). Kuman penyakit dapat bertahan di tangan selama beberapa menit setelah kontaminasi terjadi. "Bila tangan dibasuh dengan air dan sabun, maka kuman yang tersisa hanya yang sifatnya tidak menimbulkan penyakit," katanya.

Penelitian menunjukkan mencuci tangan dengan sabun bisa mencegah penyakit yang menyebabkan kematian jutaan anak setiap tahunnya, yakni diare dan infeksi saluran pernapasan akut. Dua penyakit ini dilaporkan membunuh 4 juta anak setiap tahun di negara-negara berkembang.

Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menyebutkan diare masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Angka morbiditas diare di Indonesia mencapai 423 per 1.000 penduduk. Di lain pihak Profil Kesehatan Indonesia 2008 menunjukkan prevalensi tifoid di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 1,6 persen atau sektiar 600 ribu - 1,5 juta kasus setiap tahunnya dan menempati urutan 15 dari penyakit yang menyebabkan kematian di Indonesia.

Pencegahan terhadap penyakit-penyakit yang bermula dari faktor kebersihan tangan ini bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memperbaiki perilaku sehari-hari. Dengan memeliharan kebiasaan mencuci dan membersihkan tangan, kita dapat menghindari tertular kuman penyakit dari luar, sekaligus mencegah penularan dari diri kita kepada orang lain.
Cegah 10 penyakit
Cuci tangan telah terbukti mampu mencegah lebih dari 10 jenis penyakit fecal-oral (lewat tangan ke mulut), seperti kolera, tifus, infeksi saluran pernapasan, flu burung, cacingan, influenza, dan masih banyak lagi. Bila kegiatan mencuci tangan dengan sabun ini dibiasakan, kematian 1 juta anak bisa dicegah. Negara juga bisa menghemat Rp 33 miliar setiap tahun bila cuci tangan masyarakat dibiasakan.

Mencuci tangan dengan sabun sebenarnya termasuk dalam salah satu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang dicanangkan Kementrian Kesehatan sejak beberapa tahun silam. Namun, hingga saat ini tampaknya belum banyak masyarakat yang mempraktikkannya secara tepat dan benar.

Faktanya, masyarakat hanya mencuci tangan jika tangannya terlihat kotor. Mereka juga lebih suka mencuci tangan hanya dengan air. Sabun dipakai jika tangan berbau tidak enak, itu pun masih diakali dengan materi lain yang aromanya bisa menggantikan bau di tangan.

"Dalam jari-jari tangan yang terlihat bersih, sebenarnya terdapat ratusan telur cacing, kuman dan virus di area permukaan kulit tangan dan di sela-sela kuku," kata dr.Handrawan Nadesul, penulis beberapa buku kesehatan ini.

Selain air yang mengalir dan sabun, menurut Handrawan diperlukan pula sistematika dalam mencuci tangan agar tak ada bagian yang bebas kuman. Sejumlah bukti ilmiah juga membenarkan hanya cuci tangan yang benar yang mampu membatalkan penularan penyakit.

"Bersihkan seluruh bagian pergelangan tangan, punggung tangan serta di sela jari dan kuku dengan sabun selama 20 detik. Lalu basuh dengan air kemudian keringkan dengan tisu atau alat pengering lain yang bersih," paparnya.

Selain teknik mencuci tangan, menurut Handarawan yang tak kalah penting adalah waktu-waktu kritis mencuci tangan, yakni sebelum makan, sesudah ke toilet atau menceboki anak, serta sebelum menyentuh makanan. Praktik ini mampu menurunkan hampir separuh kasus diare dan seperempat ISPA.

Itu sebabnya pemerintah bersama dengan swasta berupaya menyebarkan kebiasaan sehat ini pada seluruh keluarga di Indonesia. Kemitraan untuk mensukseskan agenda tersebut setiap tahunnya diperingati dalam acara Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia yang jatuh setiap tanggal 15 Oktober.

Lebih dari itu, semakin luas dan tumbuhnya budaya PHBS ini di masyarakat diharapkan akan turut mendukung upaya mewujudkan Indonesia lebih sehat yang bermuara pada pencapaian MDG's keempat, yaitu mengurangi angka kematian anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar